Hari ini, Selasa, 5 Mei 2025. Aku dan Bu Ike berkesempatan untuk mengikuti kunjungan bersama IGMPL (Ikatan Guru Madrasah Penggiat Literasi) ke Surabaya, tepatnya ke DISPERPUSIP Provinsi Jawa Timur.Waktu menunjukkan pukul 05.00 WIB, aku dan Bu Ike bersepakat untuk menuju titik kumpul bersama dimana kegiatan diawali dengan berkumpul di titik pertama yang berlokasi di Garasi Duta Gemilang. Suasana pagi yang masih hening justru menjadi ruang awal tumbuhnya semangat belajar para peserta.
Kegiatan ini tidak sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan intelektual yang membawa harapan besar terhadap penguatan budaya literasi di lingkungan madrasah.Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju titik kumpul kedua di MTsN 2 Nganjuk. Di lokasi ini, jumlah peserta semakin bertambah dan interaksi antarguru dari berbagai lembaga mulai terbangun. Dialog ringan yang terjadi di antara peserta menjadi cerminan awal kolaborasi, yang dalam dunia pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun ekosistem belajar yang dinamis.Selanjutnya, rombongan bergerak menuju titik kumpul ketiga di RSUD Kertosono. Pada titik ini, seluruh peserta dari berbagai jenjang pendidikan—RA, MI, MTs, hingga MA—telah berkumpul secara lengkap. Kehadiran para pendidik dalam satu wadah yang sama, di bawah naungan IGMPL (Ikatan Guru Madrasah Penggiat Literasi), menjadi simbol komitmen bersama dalam mengembangkan gerakan literasi sebagai bagian integral dari proses pendidikan.
Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan bertolak menuju Surabaya dengan tujuan utama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Perjalanan ini tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan lokasi, tetapi juga sebagai langkah menuju sumber pengetahuan yang lebih luas, sekaligus upaya memperkaya wawasan pedagogis para peserta.Sesampainya di lokasi, kegiatan dipusatkan di ruang Graha Pustaka. Materi pertama disampaikan oleh Ibu Norma dari Bidang Pembinaan Perpustakaan. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan pusat sumber belajar yang memiliki peran strategis dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Beliau juga menjelaskan bahwa layanan perpustakaan terbagi menjadi dua, yaitu layanan onsite dan layanan daring (online). Transformasi layanan ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas tanpa dibatasi ruang dan waktu. Lebih lanjut, fasilitas perpustakaan dirancang secara inklusif dengan menyediakan ruang-ruang yang ramah anak dan difabel. Hal ini mencerminkan prinsip pendidikan yang berkeadilan, di mana setiap individu memiliki hak yang sama untuk mengakses sumber belajar. Kehadiran layanan drive thru yang sempat digunakan pada masa pandemi juga menjadi bukti inovasi layanan yang responsif terhadap situasi.
Salah satu fasilitas penting yang diperkenalkan adalah ruang deposit, yaitu ruang khusus untuk pelestarian koleksi tertentu. Keberadaan ruang ini mengajarkan nilai penting tentang konservasi pengetahuan, bahwa tidak semua informasi dapat diperlakukan secara bebas, melainkan perlu dijaga keberlangsungannya sebagai warisan intelektual.
Materi berikutnya disampaikan oleh Bapak Hari Sugiyanto mengenai pengelolaan arsip dinamis. Dalam perspektif pendidikan, arsip tidak hanya dipahami sebagai dokumen administratif, tetapi juga sebagai sumber data yang memiliki nilai historis dan evidensial dalam mendukung pengambilan keputusan.Penjelasan tersebut diperkuat oleh Ibu Utari yang memperkenalkan sistem pengarsipan elektronik melalui aplikasi Srikandi dari Arsip Nasional. Digitalisasi arsip ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta mendukung praktik ramah lingkungan melalui pengurangan penggunaan kertas.Setelah rangkaian kegiatan akademik selesai, rombongan melanjutkan kunjungan ke Pantai Kenjeran. Kegiatan ini menjadi bagian dari pendekatan holistik dalam pendidikan, di mana keseimbangan antara intelektual dan rekreasi juga perlu diperhatikan. Refleksi dan relaksasi menjadi sarana untuk menyegarkan kembali pikiran sebelum kembali pada aktivitas utama.Akhirnya, kegiatan kunjungan ini mencapai penutup dengan perjalanan kembali ke Nganjuk. Pengalaman yang diperoleh tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang literasi dan kearsipan, tetapi juga memperkuat jejaring profesional antar pendidik. Diharapkan, hasil dari kegiatan ini dapat diimplementasikan secara nyata dalam praktik pembelajaran di masing-masing lembaga.
Surabaya, 5 Mei 2026
Zahra Nur Faricha
Teacher of MTs ‘Aisyiyah 1 Nganjuk


